Paket Seragam MAN 1 Bengkulu Rp3,8 Juta Dikeluhkan.
BENGKULU – Keluhan sejumlah wali murid terkait paket seragam sekolah senilai Rp3,6 juta hingga Rp3,8 juta mencuat menjelang tahun ajaran baru di MAN 1 Bengkulu. Orang tua siswa mempertanyakan kewajiban pembelian seragam dalam bentuk paket lengkap yang dinilai memberatkan dan mengurangi pilihan bagi keluarga.
Beberapa wali murid mengaku keberatan karena seluruh perlengkapan sekolah harus dibeli sekaligus melalui konveksi tertentu. Menurut mereka, sebagian kebutuhan sebenarnya sudah dimiliki siswa, baik berupa seragam, sepatu, maupun perlengkapan lain yang masih layak pakai dari kakak atau kerabat.
“Kalau bisa membeli sesuai kebutuhan tentu lebih ringan. Tidak semua perlengkapan harus dibeli dalam satu paket,” ujar salah seorang wali murid.
Selain itu, sejumlah orang tua menilai beberapa item seperti sepatu dan perlengkapan penunjang lainnya dapat diperoleh di luar dengan harga yang lebih terjangkau. Mereka juga mengaku mendapat kesan adanya penggiringan untuk mengambil paket lengkap dari pihak konveksi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, paket seragam untuk siswa laki-laki ditawarkan seharga Rp3,6 juta, sedangkan paket siswi mencapai Rp3,8 juta. Paket untuk siswi terdiri atas empat atasan, lima setel pakaian, empat hijab, dua pasang sepatu, dua pasang kaus kaki, dan satu ikat pinggang.
Menanggapi persoalan tersebut, Kepala MAN 1 Bengkulu, Dr. Hendri Kuswiran, M.Pd, belum dapat dimintai keterangan. Saat dikonfirmasi di sekolah pada Rabu (10/6/2026), yang bersangkutan tidak berada di tempat.
“Bapak sedang keluar, tapi tidak tahu ke mana,” kata petugas piket sekolah.
Namun, berdasarkan hasil komunikasi yang dilakukan dengan pihak sekolah sebelumnya, MAN 1 Bengkulu menegaskan orang tua maupun siswa tidak diwajibkan membeli seragam pada konveksi tertentu.
Sekolah memperbolehkan pemesanan seragam di tempat lain selama model dan desainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pihak sekolah juga menyatakan tidak memiliki Memorandum of Understanding (MoU) maupun kerja sama resmi yang mengikat dengan konveksi tersebut. Hubungan yang ada disebut hanya bersifat kekeluargaan dan tidak memiliki konsekuensi hukum.
Sekolah turut memastikan tidak akan ada perlakuan berbeda terhadap siswa yang memilih membeli seragam di luar konveksi dimaksud.
Sementara itu, pemilik usaha konveksi, Sumi Misya, membantah adanya kerja sama dengan pihak sekolah. Ia menegaskan usahanya hanya menyediakan paket lengkap dan tidak melayani pembelian secara satuan.
“Kami tidak bekerja sama dengan sekolah. Kalau ada orang tua atau siswa yang ingin membeli perlengkapan sekolah, kami hanya melayani dalam bentuk paket, bukan satuan,” ujar Sumi.
Menurutnya, orang tua tetap bebas membeli seragam di tempat lain. Ia juga memastikan pihaknya tidak mempersulit proses pembayaran dan membuka ruang komunikasi bagi wali murid yang mengalami kendala keuangan.
“Kalau ada yang belum bisa membayar lunas, tentu ada solusi. Yang penting ada komunikasi, pasti kami bantu,” katanya.
Polemik paket seragam ini pun menjadi sorotan karena menyangkut beban biaya pendidikan yang harus ditanggung orang tua. Sejumlah wali murid berharap adanya transparansi serta kebebasan memilih agar kebutuhan sekolah dapat disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.
Penulis: Ynt











