Alnofri Ahli Agronomi: Kopi Bengkulu Punya Modal Kuasai Pasar Global
BENGKULU — Kopi Bengkulu dinilai memiliki modal kuat untuk merebut pasar global. Ahli Agronomi Universitas Bengkulu (Unib), Alnofri, menyebut keunggulan agroekologi, keragaman varietas, kearifan lokal, serta potensi pengembangan teknologi menjadi kekuatan yang dapat mendorong kopi Bengkulu naik kelas di pasar internasional.
Menurut Alnofri, peluang tersebut tidak cukup hanya mengandalkan besarnya produksi. Bengkulu harus mampu membangun ekosistem kopi yang kuat dari hulu hingga hilir, dengan memastikan tiga unsur utama, yakni kuantitas, kualitas, dan kontinuitas (3K).
“Kalau diminta hari ini satu kontainer 50 ton, kita harus tahu barangnya dari mana. Apalagi kalau diminta beberapa kontainer. Ini soal kuantitas,” ujar Alnofri.
Ia menilai dominasi kopi robusta di Bengkulu bukan hambatan untuk meningkatkan daya saing. Teknologi pertanian memungkinkan pengembangan varietas bernilai ekonomi lebih tinggi tanpa harus membongkar seluruh perkebunan yang telah ada.
Salah satunya melalui top grafting atau sambung batang atas. Teknik tersebut memungkinkan batang atas arabika disambungkan dengan sistem perakaran robusta yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan.
“Melalui pemanfaatan teknologi pertanian, konversi varietas dapat dilakukan secara efisien lewat teknik sambung batang atas atau top grafting. Ini menjadi solusi praktis untuk meningkatkan mutu tanpa harus membongkar total perkebunan yang sudah ada,” katanya.
Alnofri juga menekankan pentingnya pemetaan berdasarkan kondisi agroekologi. Liberika dapat dikembangkan di dataran rendah dan lahan gambut, robusta pada ketinggian sekitar 400–800 meter di atas permukaan laut, sedangkan arabika lebih sesuai pada wilayah dengan ketinggian di atas 800 meter.
Kabupaten Kepahiang, Lebong, dan Rejang Lebong, menurutnya, memiliki kawasan dataran tinggi yang berpotensi dikembangkan untuk arabika. Pemetaan wilayah dan kesesuaian varietas diperlukan agar pengembangan kopi tidak hanya mengejar volume, tetapi juga menghasilkan mutu yang mampu memenuhi permintaan pasar.
Namun, kualitas tidak bisa dibangun hanya di tingkat pengolahan. Alnofri menegaskan mutu kopi harus dijaga sejak kebun, mulai dari teknik budi daya, pengendalian hama, pemetikan buah merah secara selektif, hingga proses pascapanen.
“Kalau panennya tidak petik merah dan tidak selektif, apa pun yang dilakukan di hilir tetap tidak akan menghasilkan kopi premium atau specialty,” tegasnya.
Selain kualitas, kontinuitas pasokan menjadi faktor penting dalam merebut kepercayaan pembeli internasional. Menurut Alnofri, pasar global membutuhkan kepastian volume dan pasokan secara konsisten. Karena itu, penerapan teknologi budi daya dan perbanyakan vegetatif secara terencana diperlukan untuk menjaga produktivitas.
Alnofri juga melihat peluang besar dari perubahan tren konsumen kopi dunia. Konsumen tidak lagi sekadar mencari cita rasa, tetapi semakin memperhatikan asal-usul, karakter wilayah, sejarah, serta cara kopi diproduksi.
Bengkulu memiliki kekuatan pada aspek tersebut. Karakter geografis, kearifan lokal, dan praktik budidaya yang diwariskan petani dapat dikembangkan menjadi identitas yang memperkuat nilai jual kopi. Teknik lokal seperti Kapak Tulai, misalnya, dapat dipadukan dengan prinsip pertanian berkelanjutan sebagai bagian dari narasi produk.
Menurut Alnofri, kekuatan tersebut harus diterjemahkan menjadi strategi ekonomi yang nyata. Pengembangan produksi harus dibarengi penguatan pengolahan, standardisasi mutu, ketertelusuran produk, branding, dan akses pasar ekspor.
“Petani kopi kita sebenarnya sudah memiliki kearifan lokal. Ini peluang bagi kita. Tidak ada yang menjadi hambatan jika kita kerjakan bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan, Bengkulu memiliki modal untuk bersaing di pasar global. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola secara terintegrasi agar kopi yang dihasilkan tidak hanya banyak, tetapi juga berkualitas dan tersedia secara berkelanjutan.
Dengan modal agroekologi, teknologi, kearifan lokal, dan potensi produksi yang dimiliki, Alnofri menilai kopi Bengkulu memiliki peluang kuat untuk menembus sekaligus memperbesar pangsa di pasar global.
Penulis: Ynt













