BI Bengkulu Perkuat Sinergi Dorong Produksi, Investasi, dan Ekspor untuk Pertumbuhan Ekonomi
BENGKULU – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai mitra strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui peningkatan produksi, penguatan investasi, perluasan ekspor, serta pengembangan sektor pariwisata dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menyampaikan bahwa seluruh aktivitas ekonomi berdasarkan lapangan usaha memiliki kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Oleh karena itu, penguatan sektor produksi menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kapasitas ekonomi daerah sekaligus menjaga stabilitas harga.
Menurut Wahyu, pengendalian inflasi tidak dimaksudkan untuk menahan aktivitas ekonomi, melainkan memastikan ketersediaan pasokan barang dan kebutuhan masyarakat tetap terjaga. Upaya tersebut perlu didukung oleh peningkatan produksi serta koordinasi yang kuat antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan terkait.
“Pengendalian inflasi berkaitan erat dengan ketersediaan pasokan. Pasokan berasal dari produksi, sehingga produksi yang terjaga dan meningkat akan mendukung stabilitas harga sekaligus memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujarnya, Senin (12/10/2026).
Perkuat UMKM dan Aktivitas Perdagangan
BI Bengkulu juga mendorong berbagai kegiatan ekonomi yang mampu meningkatkan transaksi masyarakat, salah satunya melalui penyelenggaraan festival dan kegiatan promosi bersama pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperluas akses pemasaran produk lokal, meningkatkan penjualan UMKM, serta mendorong masyarakat untuk berbelanja dan menggunakan produk dalam negeri.
Peningkatan aktivitas perdagangan, baik perdagangan besar maupun eceran, menjadi salah satu saluran yang dapat memperkuat perputaran ekonomi daerah. Dengan semakin aktifnya kegiatan produksi dan perdagangan, pelaku UMKM diharapkan memperoleh peluang usaha yang lebih luas dan mampu meningkatkan daya saing produknya.
Investasi dan Ekspor Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi
Selain konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, investasi dan ekspor merupakan faktor penting yang perlu diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.
Wahyu menjelaskan, investasi melalui penanaman modal dalam negeri maupun penanaman modal asing berpotensi meningkatkan kapasitas produksi, memperluas kegiatan usaha, serta menciptakan kesempatan kerja. Investasi asing juga dapat menjadi salah satu sumber tambahan modal untuk mendukung pengembangan berbagai sektor ekonomi.
Di sisi lain, peningkatan ekspor komoditas unggulan yang memiliki surplus produksi dapat memperbesar penerimaan devisa. Hal ini turut mendukung ketahanan eksternal perekonomian dan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Karena itu, penguatan daya saing produk daerah, peningkatan kualitas produksi, dan perluasan akses pasar perlu terus dilakukan agar potensi ekonomi Bengkulu dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar.
Pariwisata dan UMKM Perkuat Ekonomi Daerah
Pengembangan sektor pariwisata juga menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Bengkulu. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara berpotensi mendatangkan devisa sekaligus meningkatkan permintaan terhadap berbagai produk dan layanan lokal.
Dampak ekonomi tersebut dapat dirasakan oleh pelaku usaha transportasi, kuliner, penyedia suvenir, hingga UMKM yang menawarkan produk khas daerah.
Sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk mengoptimalkan potensi pariwisata sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi.
Jaga Stabilitas Harga di Tengah Tantangan Global
Di tengah dinamika ekonomi global, BI terus mencermati berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi stabilitas perekonomian domestik, termasuk perubahan harga komoditas internasional, perkembangan suku bunga, dan pergerakan nilai tukar.
Perubahan kondisi global dapat berdampak terhadap biaya impor, harga barang, serta biaya pembiayaan bagi pelaku usaha dan masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan stabilisasi perlu berjalan seimbang dengan upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Wahyu menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan hingga September 2026, inflasi Provinsi Bengkulu berada di kisaran 3,3 persen. Sementara itu, BI Bengkulu memperkirakan inflasi hingga akhir 2026 berada di sekitar 3 persen.
Proyeksi tersebut tetap memperhatikan perkembangan berbagai komponen pembentuk inflasi, termasuk harga yang diatur pemerintah, inflasi inti, dan kelompok pangan bergejolak.
Menurutnya, komoditas pangan memiliki peranan penting dalam perkembangan inflasi sehingga kesinambungan produksi dan kecukupan pasokan perlu terus dijaga.
“Produksi cabai, padi, dan komoditas strategis lainnya perlu dijaga agar tetap baik sehingga pasokannya cukup dan stabilitas harga dapat terpelihara,” jelasnya.
Melalui penguatan sinergi pengendalian inflasi, peningkatan produksi, pengembangan UMKM, perluasan investasi, dan peningkatan ekspor, BI Bengkulu berharap perekonomian daerah dapat tumbuh lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.
Penulis: Ynt










