Inflasi Bengkulu Naik 3,72 Persen, BPS Ungkap Komoditas Pemicu Kenaikan Harga Oktober 2026
BENGKULU – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) sebesar 3,72 persen pada Oktober 2026. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai merah dan beras, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan inflasi di Provinsi Bengkulu.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik yang dirilis Senin (2/11/2026), Indeks Harga Konsumen (IHK) Bengkulu pada Oktober 2026 tercatat sebesar 112,42, meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang berada pada angka 108,39.
Plt. Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Sahranudin, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa inflasi bulanan atau month-to-month (mtm) pada Oktober 2026 mencapai 0,51 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date (ytd) tercatat sebesar 3,23 persen.
Secara tahunan, inflasi Oktober 2026 juga mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni dari 2,85 persen pada Oktober 2025 menjadi 3,72 persen pada Oktober 2026.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil sebesar 1,72 persen. Kelompok pengeluaran ini mengalami kenaikan indeks harga sebesar 5,14 persen.
Sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi terhadap inflasi tahunan antara lain cabai merah sebesar 0,18 persen, minyak goreng 0,17 persen, beras 0,14 persen, sigaret kretek mesin 0,13 persen, serta ikan dencis 0,11 persen.
Sementara secara bulanan, cabai merah menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,57 persen, disusul beras sebesar 0,07 persen. Cabai rawit dan sigaret kretek mesin masing-masing memberikan andil sebesar 0,03 persen.
Di sisi lain, penurunan harga sejumlah komoditas turut menahan laju inflasi. Daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi bulanan terbesar dengan andil 0,32 persen. Penurunan harga juga terjadi pada susu bubuk, semangka, jengkol, dan beberapa komoditas lainnya.
BPS Dorong Penguatan Potensi Ekspor Bengkulu
Selain perkembangan inflasi, BPS Provinsi Bengkulu juga menyoroti kondisi perdagangan luar negeri, khususnya potensi peningkatan ekspor daerah.
Dalam keterangannya, Sahranudin menjelaskan bahwa ekspor Bengkulu hingga saat ini masih didominasi komoditas batu bara dan karet. Sementara itu, komoditas minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu komoditas unggulan ekspor daerah.
Menurutnya, pengembangan ekspor CPO masih memerlukan pembahasan dan perumusan kebijakan bersama sejumlah pemangku kepentingan agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
BPS Provinsi Bengkulu bersama Pemerintah Provinsi Bengkulu, Bea Cukai, Karantina, serta pihak terkait lainnya tengah melakukan koordinasi dan diskusi untuk mengidentifikasi berbagai aspek yang perlu diperkuat dalam mendorong ekspor CPO.
Upaya tersebut diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas, meningkatkan kontribusi komoditas unggulan daerah, serta mendorong diversifikasi produk ekspor Bengkulu agar tidak hanya bergantung pada batu bara dan karet.
BPS menilai penguatan sinergi antarlembaga dan dukungan kebijakan menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan potensi perdagangan luar negeri. Dengan demikian, komoditas unggulan Bengkulu diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah sekaligus memperluas kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu.
Penulis: Ynt












