Petani Tigabinanga Menjerit, Pupuk Subsidi Menghilang Saat Musim Tanam
TIGABINANGA- Jeritan petani di Kecamatan Tigabinanga Kabupaten Karo kian nyaring terdengar. Di tengah musim tanam yang sedang berlangsung, pupuk subsidi justru menghilang dari peredaran. Kondisi ini memukul petani yang sangat bergantung pada bantuan pemerintah untuk menjaga produktivitas lahan mereka.
Momentum musim tanam yang seharusnya dimanfaatkan maksimal kini berubah menjadi kecemasan. Curah hujan yang cukup sebenarnya menjadi faktor pendukung utama bagi pertumbuhan tanaman jagung. Namun tanpa pupuk, potensi hasil panen terancam merosot tajam.
Elia Tarigan, salah satu petani, mengungkapkan bahwa kelangkaan pupuk terjadi saat kebutuhan berada di puncaknya. Menurutnya, situasi ini bukan hanya menyulitkan, tetapi juga mengancam keberlangsungan usaha tani masyarakat.
“Sekarang musim tanam, pupuk justru tidak ada. Kami butuh kepastian, bukan janji. Kalau terus begini, kami bisa gagal panen,” tegasnya.
Kelangkaan pupuk subsidi memaksa petani menghadapi pilihan sulit: membeli pupuk nonsubsidi dengan harga tinggi atau membiarkan tanaman tumbuh tanpa perawatan optimal. Keduanya sama-sama berisiko, baik dari sisi produksi maupun ekonomi keluarga.
Hingga kini, petani menilai belum ada langkah konkret yang mampu menjawab persoalan distribusi pupuk di lapangan. Mereka mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait segera bertindak cepat dan tepat, sebelum kerugian semakin meluas.
Jika kondisi ini terus berlarut, bukan hanya panen yang terancam gagal, tetapi juga ketahanan pangan lokal ikut dipertaruhkan. Di tengah musim tanam yang krusial, hilangnya pupuk subsidi menjadi persoalan serius yang tidak bisa lagi ditunda penanganannya.
Penulis: Herijon
Editor: Hasan












