SMAN 3 Bengkulu Terapkan Program Retreat Berbasis Masjid, Alternatif Pembinaan Siswa Tanpa Skorsing
BENGKULU- SMAN 3 Bengkulu menerapkan program retreat berbasis masjid sebagai langkah pembinaan karakter siswa sekaligus alternatif penanganan pelanggaran disiplin tanpa menerapkan skorsing. Program ini dinilai lebih efektif dalam membentuk sikap, mental, dan spiritual peserta didik.
Kepala SMAN 3 Bengkulu, Dr. Rustiyono, M.Pd, mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi program Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah. Program ini telah dijalankan sejak 2022 dan terus dikembangkan hingga saat ini.

“Tujuan awal program ini sejalan dengan cita-cita pembentukan republik, yakni membangun sumber daya manusia yang berkarakter. Kami tidak ingin pembinaan siswa berhenti pada skorsing, karena itu justru berpotensi menimbulkan kebiasaan bolos dan masalah baru,” ujar Rustiyono.
Ia menjelaskan, selama ini skorsing kerap menjadi pilihan terakhir ketika pembinaan guru dan konseling sekolah tidak membuahkan hasil. Namun, metode tersebut dinilai kurang efektif karena siswa justru berada di luar pengawasan sekolah.
Melalui program retreat, siswa dibina selama tiga hari penuh di lingkungan masjid dengan pendampingan guru dan ustadz, termasuk ustazah. Para siswa diwajibkan mengikuti seluruh kegiatan ibadah, membawa perlengkapan pribadi, serta menjalani pembinaan intensif selama 24 jam.

“Pendekatan ini jauh lebih humanis. Anak-anak dibina langsung, dibiasakan salat berjamaah, disiplin, dan tanggung jawab. Kami bahkan ikut mendampingi salat subuh bersama mereka,” kata Rustiyono.
Ia menambahkan, kehadiran ustadz dalam pendampingan menjadi fenomena positif yang memperkuat pembinaan, terutama dari sisi pendekatan emosional dan spiritual siswa.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, menyatakan program retreat merupakan bagian dari pengembangan program pembinaan karakter yang sebelumnya diterapkan kepada ASN berbasis rumah ibadah.
“Kini kita terapkan di sekolah. Isinya sama, membangun sumber daya manusia, khususnya generasi emas. Anak-anak dibekali pemahaman ibadah, amalan sunnah, serta nilai-nilai akhlak seperti hormat kepada guru dan bakti kepada orang tua,” ujar Herwan.
Menurutnya, program ini telah dilaksanakan di SMA Negeri 5 Bengkulu dan kini dilanjutkan di SMA Negeri 3. Ke depan, seluruh SMA dan SMK di Provinsi Bengkulu akan menerapkan program serupa.
“Harapannya, karakter yang terbentuk di sekolah dapat terbawa ke rumah dan lingkungan masyarakat. Program ini akan terus dikembangkan dan menjadi model pembinaan karakter di Bengkulu,” pungkasnya.(Ynt)










