Beranda Bengkulu Inflasi Bengkulu September 2026 Capai 3,38 Persen, Bahan Pokok Jadi Perhatian
Bengkulu

Inflasi Bengkulu September 2026 Capai 3,38 Persen, Bahan Pokok Jadi Perhatian

Kepala BPS Provinsi Bengkulu Sahranudin menyampaikan perkembangan inflasi September 2026 di Raflesia BPS Provinsi Bengkulu, Kamis (1/10/2026).

BENGKULU — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat inflasi Provinsi Bengkulu pada September 2026 sebesar 3,38 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Angka tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,85.

Hal itu disampaikan BPS Provinsi Bengkulu dalam penyampaian perkembangan inflasi September 2026 yang berlangsung di Raflesia BPS Provinsi Bengkulu, Kamis (1/10/2026).

Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Sahranudin, mengatakan inflasi tahunan tersebut terjadi akibat kenaikan indeks harga pada seluruh kelompok pengeluaran.

“Inflasi y-on-y di Provinsi Bengkulu terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada seluruh kelompok pengeluaran,” kata Sahranudin.

Berdasarkan wilayah pengukuran, inflasi y-on-y Kabupaten Mukomuko tercatat sebesar 4,39 persen dengan IHK 113,21. Sementara Kota Bengkulu mengalami inflasi sebesar 3,05 persen dengan IHK 111,40.

Sejumlah kelompok pengeluaran tercatat mengalami kenaikan indeks harga. Kelompok makanan, minuman dan tembakau naik 4,08 persen; pakaian dan alas kaki 2,10 persen; serta perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,62 persen.

Selanjutnya, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 2,78 persen, kesehatan 0,20 persen, transportasi 4,39 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,15 persen.

Kelompok rekreasi, olahraga dan budaya juga mengalami kenaikan sebesar 4,52 persen, pendidikan 1,22 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,85 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,25 persen.

BPS mencatat sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi y-on-y pada September 2026. Komoditas tersebut antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, bensin, minyak goreng, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ikan dencis, jasa binatu atau laundry, kontrak rumah, bahan bakar rumah tangga, dan Makanan siap santap.

Di sisi lain, beberapa komoditas memberikan andil terhadap deflasi, di antaranya cabai merah, bawang merah, santan segar, tarif rumah sakit, jengkol, tomat, telur ayam ras, bawang putih, popok bayi sekali pakai, dan sepatu pria.

Secara bulanan, BPS mencatat Provinsi Bengkulu mengalami inflasi sebesar 0,38 persen pada September 2026 atau secara month-to-month (m-to-m).

“Untuk inflasi secara bulanan, pada September 2026 Provinsi Bengkulu mengalami inflasi sebesar 0,38 persen,” ujar Sahranudin.

Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi bulanan antara lain cabai merah, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, ikan tuna, udang basah, roti manis, kemeja panjang katun wanita, Sigaret Putih Mesin (SPM), biaya pemeliharaan atau servis, dan sepatu wanita.

Sementara komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi bulanan antara lain angkutan udara, daging ayam ras, jengkol, terong, bawang merah, minyak goreng, tomat, pir, kentang, dan emas perhiasan.

Kondisi harga komoditas pangan, khususnya ikan dan sejumlah bahan pokok, tetap menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas harga di Provinsi Bengkulu. Perkembangan harga komoditas strategis tersebut perlu terus dipantau untuk mengantisipasi tekanan inflasi pada periode berikutnya.

Penulis: Ynt

Sebelumnya

Polri Lepas 140 Personel FPU 8 MINUSCA, Siap Jalankan Misi Perdamaian di Afrika Tengah

admin
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Detak Nusantara News
Alaku
Alaku